Kegiatan

Bukan Sekadar Melatih Bola: Kisah Perjuangan Seorang Pelatih di Pondok Assalam Pelatih Hebat Dari Desa Pulau Jambu

Di balik suara peluit dan riuh lapangan, ada seorang guru yang mengajarkan bahwa kemenangan terbesar bukanlah mengangkat trofi, melainkan melihat anak didiknya tumbuh menjadi manusia yang kuat, disiplin, dan berakhlak.

admin1 09 August 2026 1 bulan yang lalu 89 kali dibaca 0 komentar
Bukan Sekadar Melatih Bola: Kisah Perjuangan Seorang Pelatih di Pondok Assalam Pelatih Hebat Dari Desa Pulau Jambu

Naga Beralih — Redho Kaur
Ketika sebagian orang mulai mencari tempat berteduh setelah matahari perlahan condong ke ufuk barat, seorang lelaki masih berdiri di tengah lapangan.

Peluit menggantung di lehernya. Sepatu penuh tanah. Keringat membasahi wajahnya.
Di hadapannya, belasan santri Pondok Pesantren Assalam berlari mengejar bola.

“Jangan menyerah! Ulangi lagi!”

Suara itu terdengar tegas.
Bola kembali bergulir.
Seorang santri terjatuh. Ia bangkit. Membersihkan lututnya. Kemudian kembali berlari.
Bukan Sekadar Melatih Bola: Kisah Perjuangan Seorang Pelatih di Pondok Assalam Pelatih Hebat Dari Desa Pulau Jambu


Sang pelatih hanya tersenyum kecil.


Bagi orang lain, mungkin itu hanyalah latihan sepak bola biasa.

Namun bagi Coach Khofi Uddin, S. Pd setiap langkah kaki para santri di lapangan adalah bagian dari perjalanan panjang untuk membentuk masa depan.

Dari Lapangan Hijau, Ia Belajar Tentang Kehidupan

Menjadi pelatih sepak bola di lingkungan pesantren bukanlah pekerjaan sederhana.

Ia tidak hanya dituntut mengajarkan cara mengoper bola, melakukan tendangan, bertahan, atau mencetak gol.

Lebih dari itu, ia harus mengajarkan kesabaran, kedisiplinan, kerja sama, keberanian dan sportivitas.

Sebab ia sadar, anak-anak yang berdiri di hadapannya bukan hanya calon pemain sepak bola.
Mereka adalah para santri.
Bukan Sekadar Melatih Bola: Kisah Perjuangan Seorang Pelatih di Pondok Assalam Pelatih Hebat Dari Desa Pulau Jambu

Mereka adalah anak-anak yang suatu hari akan kembali ke tengah masyarakat dengan membawa ilmu dan akhlak yang mereka dapatkan di Pondok Assalam.

Karena itu, setiap latihan selalu memiliki makna.

Ketika ia berkata,

“Jangan mudah menyerah!”

Sesungguhnya ia tidak hanya berbicara tentang pertandingan.

Ia sedang mengajarkan tentang kehidupan.

Ketika seorang santri diminta datang tepat waktu, ia sedang mengajarkan bahwa kesuksesan membutuhkan disiplin.

Ketika seorang pemain diminta mengakui kesalahan, ia sedang mengajarkan kejujuran.

Dan ketika seorang pemain kalah dalam pertandingan lalu diminta tetap berjabat tangan dengan lawan, ia sedang mengajarkan tentang akhlak.

0 Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar
Email tidak ditampilkan.